RUMAH dengan KESAN ELEGAN DAN CEMERLANG

Posted by

Rumah keluarga Ajeng di Bandung terlihat megah berkat desain strukturnya yang serba masif.Elemen-elemen bangunan karya Suwito terlihat ekspresif dengan bentuk kotak-kotak yang dominan yang menjadi bahasa estetika arsitektur kontemporer.

SALAH SATU CIRI khas Suwito adalah menerapkan bahan bangunan alami seperti batu palimanan, batu candi dan juga batu sandstone. Dari pekarangan depan, sosok rumah ini terlihat tinggi dan megah berkat lahan yang dibuat menanjak tiga meter dari permukaan jalan sedangkan tangga yang mengantar ke area pintu masuk dipermanis dengan patung bersosok “balerina” karya Ketut Winata yang luwes dengan lengkungan yang elegan. Kanopi bersusun yang meneduhi sebagian area tangga ini terlihat simpel tetapi efektif menangkal sinarmata­ hari dan hujan.

Pintu masuknya ditudungi teras lantai atas yang juga berfungsi sebagai balkon. Aneka batu alami bertekstur sebagai penutup lantai dan dinding di area ini memberi karakteryang kuat pada bangunan. Permainan warna dan tekstur batu alami juga dirasakan di dalam rumah. Lantai granit hitam dikombinasikan dengan batu palimanan yang kekuning-kuningan sehingga terlihat kontras. Ruangan kecil di ujung rumah menjadi tempat menerima tamu dengan suasana taman yang asri di sisi dalamnya. Ruangan ini menjadi tempat koleksi lukisan dan patung karya SidarthaLorong yang panjang mengantarkan kita ke kamar tidur tamu dan di ujungnya terdapat ruangan makan yang terpadu bersama dapur terbuka serta ruangan keluarga yang nyaman. Ruangan keluarga ini sangat unik Lukisan ayam jago karyaPopo lskandar, turut menyemarakkan suasanaAjeng, pemilik rumah tidak menyukai lampu gantung. Sebagai gantinya dibuatkan plafonberpola kotak-kotak dengan penerapan lampu indirect yang terlihat megah. Sirkulasi udara dan sinar matahari sangat memadai di rumah ini berkat desain bukaan pintu kaca yang diterapkan di seluruh sisi dalam rumah yang berhadapan langsung dengan area taman yang luasnyakira-kira sepertiga dari luas tanah 1000 m2Tamantersebut dihiasi kolam ikan dan patung burung karya Ketut Winata yang terlihat terbang memutar lalu menuju ke permukaan air. Sebuah rumah burung dengan berbagai jenis burung peliharaan turut memeriahkan suasana taman ini yang berhadapan dengan patio di belakang rumah. Pada ujung taman terdapat sebuah gazebo dengan meja biliar yang terpadu.

lbu dengansatu putradansatuputri ini berkata, “Tempat main ini diadakan supaya anak-anak lebih betah di rumah, tetapi kenyataannya mereka mempunyai kesibukan sendiri di luar rumah Namun rumah ini bagaikan sebuah “istana” yang membawa keharmonisan bagi keluarganya Ajeng mengatakan bahwa finishing rumah ini sangat bagus dan rapi. Dia turut memilih fumrtur yang senada, simpel namun berkelas. Pilihannya jatuh pada tipe Da Vinci, seperti meja makan dengan kaca dan konsol bergaya Eropa. Nuansa cemerlang di interior bangunan seluas 700 m2 ini juga berkat lantai granit hitam yang mengangkat tampilanperabot-perabotnya secara visual sehingga walaupun tidak me, mpunyai latar belakang desain, pilihan Ajeng atas perabot di rumah ini menunjukkan selera yang tinggi.

RESOR DI TENGAH KOTA

Rumah ini bagi penghuni bagaikan“oase”.Di sini desain bangunan yang bergaya natural kontemporer dipadu dengan lanskap yang dirancang berupa inner court dan taman bergayatropis.

HUNIAN YANG BERLOKASI di area Jagakarsa Jakarta Selatan ini merupakan kediaman keluarga Sholahuddin.Pasangan muda dengan tiga orang anak ini memang telah lama mendambakan rumah yang senyaman resor di tempat-tempat wisata seperti Bali dan Lombok. Saat akan membangun hunian baru ini, pemilik mempercayakan desainnyapada konsultan tim arsitek Bagus Suryadarma sedangkan kontraktomya ditangani oleh Partoyo. Dilihat dari kondisi lingkungannya, lahan hunian dengan luas sekitar 1000 m2 ini terletak diantara gudang dan pabrik serta berada cukupjauh dari pinggir jalan.

Sebagai tahap awal, arsitek membuat bangunan untuk garasi serta parkir. Dua blok bangunan dua lantai ditata menyerupai huruf L dan berorientasi ke arah inner court Seluruh ruang dalam memiliki jendela luas yang menghadap ke arah inner court dan dikelilingi oleh teras dan balkon sehingga menciptakan ruang dalam yang menyatu dengan ruang luar. Sementara itu, area inner court diolah menjadi kolam renang dengan sistem overflow. Bangunan bale yang dimodifikasi menjadi ruang fitness, dek untuk barbeque dan taman tropis sehingga area ini menjadi pusat aktivitas dan rekreasi keluarga.

Area terbuka ini dikelilingi oleh ruang tamu dan ruang makan yang dirancang berupa void dua lantai sehingga diperoleh sirkulasi udara dan cahaya alami yang optimal ke dalam rumah. Dapur di lantai dasar, kamar tidur dan kamar mandi utama di lantai atas juga mendapat pemandangan langsung ke arah inner court sedangkan tigakamar tidur anak serta kamar tidur tamu dihubungkan melalui selasar. Dalam menata interiomya, arsitek bersama dengan pemilik rumah memilih furnitur dan aksesori yang simpel dari bahan alami cenderung berbentuk kotak-kotak geomertis dengan kombinasi warna-wama tanah.

Untuk menegaskan kesan resor, wujud bangunan mengacu pada sosok rumah tradisional Bali. Bangunan dirancang dengan pembagian kepala-badan-kaki yang ditandai oleh atap pelana yang simpel sedangkan dinding lantai atasnya hanya diplester dan dicat netral sehingga tampil ringan. Yang unik adalah dinding lantai bawah yang dilapisi oleh batu alam agar berkesan masif serta kokoh. Untuk struktur bangunan, arsitek mengombinasikan konstruksi beton bertulang untuk bagian utama dengan konstruksi kayu untuk balkon, kerangka atap, penutup lantai sebagian ruangan dan dek sekitar kolam renang.

Sebagian besar material yang dipilih merupakan bahan alami di antaranya batu lombok atau batu sengkol yang menutupi sebagian besar dinding lantai dasar. Susunan batu bongkah berwarna merah muda ini “diperlunak” dengan kayu merbau yang diberi finishing gelap pada area balkon serta cat dinding warna putih untuk ruang dalam. Dalam pengerjaan di lapangan, beberapa rencana detail bangunan diubah diantaranya jembatan penghubung antara dua blok bangunan yang awalnya terbuka kini ditutup dengan jendela kaca sehingga ruang dalam tidak basah terkena hujan.

Area transisi ini sengaja ditutup dengan atap datar dari beton agar tetap mempertahankan sosok dua blok bangunan. Selain itu, elemen dekoratif khas Bali seperti pintu antik berukir, anyaman rotan belah atau lampit sebagai penutup plafon miring dan alang-alang untuk penutup atap juga dipilih untuk menambah atraktif penampilan rumah. Untuk penerangan umum, arsitek memasang lampu jenis downlight sedangkan untuk mengekspos tampak bangunan dan taman di sekrtar kolam renang dipasang lampu jenis uptight Hasilnya, suasana rumah ini tampil “dramatis” terutama di malam hari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *